Gempa Sumbar 3009 (1) : “….Earthquake Did Not Kill People, Bad Buildings Did It…..”

Seismicity Map 1990-2000 USGS
Tanggal 30 September 2009 sore ranah Minang diguncang oleh gempa tektonik berkekuatan 7.6 pada skala Richter (Koran Tempo tanggal 11 Oktober 2009 memuat berita koreksi dari Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Padangpanjang yang menyatakan bahwa skala gempa tersebut berdasarkan data yang lebih akurat adalah sebesar 7.9 pada skala Richter).  Epicentrum gempa terletak 52 km dari Padang arah Barat Daya Pariaman.
Akan terjadinya gempa dahsyat di kawasan pantai Barat Sumatera (khususnya Sumatera Barat dan Bengkulu) pada hakekatnya sudah dipredikasi oleh para ahli yang melakukan penelitian  intensif sejak terjadinya bencana gempa & tsunami Aceh pada penghujung tahun 2004 yang lalu. Diprediksi bahwa terdapat potensi gempa yang diakibatkan enersi yang terakumulasi di patahan benua yang terletak di sebelah Barat kepulauan Mentawai. Potensi akan terjadinya fenomena alam ini sudah dapat dipastikan. Yang masih tidak terjangkau oleh ilmu pengetahuan sampai saat ini adalah prediksi yang lebih akurat menyangkut kapan akan terjadinya peristiwa dahsyat tersebut. Hasil penelitian Profesor Kerry Sieh dari California Institute of Technology (sekarang Direktur Earth Observatory of Singapore, Nanyang Technological University) dan Danny Natawidjaja  pakar geoteknology dari LIPI menyangkut hal tersebut telah disiarkan secara luas dalam publikasi ilmiah maupun media masa, baik di luar negeri maupun di Indonesia sendiri. Dalam rangka mitigasi bencana, hal inipun telah disampaikan kepada masyarakat dan menjadi bagian dari skenario pelatihan yang telah dilakukan bagi masyarakat Padang. Sebagian besar masyarakat tampak telah memahami dan sadar akan potensi bahaya gempa yang dapat memicu tsunami ini, yang tampak dari reaksi spontan masyarakat yang segera menuju lokasi-lokasi yang dinilai aman terhadap bahaya tsunami, segera setelah gempa terjadi.
Alhamdulillah tsunami kali ini tidak terjad, tapi fakta yang tampak setelah gempa terjadi adalah menyangkut salah satu point penting dalam langkah mitigasi (mitigasi=pengurangan risiko) bencana gempa  yang telah dilaksanakan selama ini : ketahanan bangunan terhadap gempa (!). Sejumlah besar bangunan ternyata rontok dan porak poranda akibat Gempa Sumbar 3009  (30 September 2009)  tersebut. Inilah pemandangan yang mengejutkan  bagi sebagian besar anggota masyarakat, dan pemandangan yang menyakitkan bagi mereka yang bergerak di bidang konstruksi………(baca selengkapnya, KLIK DISINI)
Catatan : Dikutip dari http://kadaikopi.carpediem123.com melihat pada isinya yang terkait dengan dunia konstruksi dan peranan pengawasan yang merupakan wilayah kerja Konsultan.


/arthemia-premium/images/ads/468x60.gif)